Jumat, 16 Desember 2016


Makalah Bahasa Indonesia
EFEK MADU DALAM PROSES EPITELISASI LUKA BAKAR
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Septianna Nurul Suryani,S.S.,Hum.









Disusun Oleh :
Nama                  : Desita
NIM                   : 14.15.3949
Kelas                  : D/KM/III
Kelompok           : D3

KONSENTRASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2016







KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puja dan puji syukur hanya layak tercurahkan kepada Allah SWT, karena atas limpahan karunia-Nya, shalaw serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk di teladani, yang seluruh ucapannya adalah kebenaran , yang selalu getar hatinya karena kebaikan, Sehingga saya bisa menyelesaikan Makalah Biokomia.
Banyaknya kesulitan dan hambatan yang saya hadapi dalam pembuatan tugas mandiri ini tetapi dengan semangat dan kegigihan serta arahan, bimbingan dari berbagai pihak  sehingga saya bisa menyelesaikan tugas mandiri ini dengan baik, oleh karena itu pada kesempatan kali ini, saya mengucapkan terima kasih kepada.
Saya menyimpulkan bahwa Makalah Biokimia mandiri ini masih belum sempurna, oleh karena itu saya menerima kritik dan saran, guna kesempurnaan tugas mandiri ini dan bermanfaat bagi saya dan pembaca umumnya.


                                                            Yogyakarta, 17 Desember 2016








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Luka bakar adalah luka karena kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, listrik, dan bahan kimia. Luka yang disebabkan oleh panas api atau cairan yang dapat membakar merupakan jenis yang lazim kita jumpai dari luka bakar yang parah.
Luka bakar merupakan jenis trauma dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan suatu penatalaksanaan sebaik-baiknya sejak fase awal hingga fase lanjut.Luka bakar dapat terjadi pada setiap orang muda maupun orang tua dan baik laki-laki maupun perempuan.Luka bakar dapat bervariasi dari cedera ringan yang dapat dengan mudah dikelola di klinik rawat jalan, untuk luka yang luas dapat mengakibatkan kegagalan sistem organ dan perawatan yang berkepanjangan di rumah sakit.
Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem yang berat. Perawatan dan rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan, biaya mahal, tenaga terlatih dan terampil. Oleh karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), intensifis, spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologiKerusakan akibat luka bakar derajat dua dangkal mengenai epidermis danbagian atas dari corium / dermis. Penyembuhan terjadi spontan dalam 10-14 haritanpa terbentuk jaringan parut.Penyembuhan luka adalah suatu kualitas darikehidupan jaringan.Hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Prosespenyembuhan dapat terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahanperawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan.Penyembuhan luka bakar melalui beberapa fase yakni fase inflamasi, faseproliferasi, dan fase maturasi. Proses epitelisasi terjadi selama fase proliferasi.2 Lapissel-sel yang mati karena trauma melindungi sel-sel hidup di lapisan yang lebih dalamdari epitel. Lapis-lapis perbaikan luka terbentuk dengan adanya integrasi antarakolagen yang disintesis oleh fibroblast dengan substansi dasar. Selama pemulihanluka,sel-sel pada tepian luka menggepang menjadi lembaran tipis yang menyebarmenutupi celah dalam epitel. Sedangkan pada tepi luka, pembelahan sel dimulai agakbelakangan untuk menyediakan sel yang diperlukan untuk pemulihan epitel sampaitebalnya normal.
Pengelolaan luka yang baik akan menentukan hasil akhir proses penyembuhan luka. Kasa tulle banyak digunakan untuk pembalutan luka bakar. Pemberian antibiotik pada kasa tulle dapat mencegah terjadinya infeksi mikroorganisme yang dapat menghambat proses penyembuhan luka bakar. Madu adalah cairan kental manis yang dihasilkan oleh lebah. Bahan ini telah lama digunakan sebagai obat, dan penelititan yang dilakukan pada dekade terakhir telah menunjukkan manfaat yang besar dari madu.8-10 Selain memiliki efek anti mikroba, madu juga memiliki efek anti inflamasi dan meningkatkan fibroblastik serta angioblastik. Analisis mengenai kandungan madu menyebutkan bahwa unsur terbesar komponen madu adalah glukosa dengan kadar fruktosa paling besar (76,8%), disamping mineral dan vitamin. Berbagai penelitian terdahulu menyebutkan bahwa madu efektif sebagai alternatif pengobatan untuk berbagai macam luka termasuk luka bakar. Namun tidak dijelaskan bagaimana peranan madu dalam proses penyembuhan luka bakar. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui derajat kesembuhan (re-epitalisasi) luka bakar derajat dua dangkal dengan menggunakan madu dan kasa tulle sebagai media pembalut luka.
B.     Rumusan Masalah
1.      Epidemiolgi luka bakar
2.      Insidensi luka bakar
3.      Bagaimana metode yang digunakan dalam penyembuhan luka ?
4.      Bagaimana efek perlakuan terhadap variable penelitian ?
5.      Diskusi penelitian

C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui derajat kesembuhan (re-epitalisasi) luka bakar derajat dua dangkal dengan menggunakan madu dan kasa tulle sebagai media pembalut luka.















BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Kesehatan Secara Umum
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial, dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan, dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan, dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya, dan orang lain. Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green, dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasisukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek.Golongan masyarakat yang dianggap 'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil, dan pedagang.Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.
B.     Konsep Sehat – Sakit
Dibawah ini terdapat beberapa konsep mengenai sehat-sakit, yaitu:
1.      Konsep Sehat Sakit Menurut WHO
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).

Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):

a.    Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.

b.    Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.

c.    Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

2.    Sehat Menurut DepKes RI
     UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur –unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektua, spiritual dan penyakit) dan eksternal  (lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.

Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.

Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelaskan dari segi impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia.



3.    Ciri-Ciri Sehat

Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit.Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.

Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.

a.    Pikiran sehat

b.    Emosional sehat

c.    Spiritual sehat

d.   Kesehatan sosial

e.    Kesehatan dari aspek ekonomi

4.    Paradigma sehat

Paradigma sehat adalah cara pandang atau pola pikir pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis dan lintas sektoral, dalam suatu wilayah yang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan perlindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya penyembuhan penduduk yang sakit.

Pada intinya paradigma sehat memberikan perhatian utama terhadap kebijakan yang bersifat pencegahan dan promosi kesehatan, memberikan dukungan dan alokasi sumber daya untuk menjaga agar yang sehat tetap sehat namun tetap mengupayakan yang sakit segera sehat.Pada prinsipnya kebijakan tersebut menekankan pada masyarakat untuk mengutamakan kegiatan kesehatan daripada mengobati penyakit.Telah dikembangkan pengertian tentang penyakit yang mempunyai konotasi biomedik dan sosio kultural.

5.    Aspek-aspek pendukung kesehatan

Faktor-faktor yg mempengaruhi keselarasan tersebut berlangsung seterusnya adalah:

a.    Nutrisi yang lengkap dan seimbang

b.    Istirahat yang cukup

c.    Olah Raga yang teratur

d.   Kondisi mental, sosial dan rohani yang seimbang

e.    Lingkungan yang bersih


C.    Teori Luka Bakar
 Luka bakar adalah luka karena kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, listrik, dan bahan kimia. Luka yang disebabkan oleh panas api atau cairan yang dapat membakar merupakan jenis yang lazim kita jumpai dari luka bakar yang parah.

Luka bakar merupakan jenis trauma dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan suatu penatalaksanaan sebaik-baiknya sejak fase awal hingga fase lanjut.Luka bakar dapat terjadi pada setiap orang muda maupun orang tua dan baik laki-laki maupun perempuan.Luka bakar dapat bervariasi dari cedera ringan yang dapat dengan mudah dikelola di klinik rawat jalan, untuk luka yang luas dapat mengakibatkan kegagalan sistem organ dan perawatan yang berkepanjangan di rumah sakit.

Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem yang berat. Perawatan dan rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan, biaya mahal, tenaga terlatih dan terampil. Oleh karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), intensifis, spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologi. 








BAB III
PEMBAHASAN

A.    Epidemiologi Luka Bakar
 Menurut the National Institutes of General Medical Sciences, sekitar 1,1 juta luka-luka bakar yang membutuhkan perawatan medis setiap tahun di Amerika Serikat. Di antara mereka terluka, sekitar 50.000 memerlukan rawat inap dan sekitar 4.500 meninggal setiap tahun dari luka bakar.Ketahanan hidup setelah cedera luka bakar telah meningkat pesat selama abad kedua puluh.Perbaikan resusitasi, pengenalan agen antimikroba topikal dan, yang lebih penting, praktek eksisi dini luka bakar memberikan kontribusi terhadap hasil yang lebih baik.Namun, cedera tetap mengancam jiwa.

Di India, sekitar 2,4 juta luka bakar dilaporkan per tahun. Sekitar 650.000 dari cedera ditangani oleh pusat-pusat perawatan luka bakar, 75.000 dirawat di rumah sakit.Dari mereka yang dirawat di rumah sakit, 20.000 yang mengalami luka bakar besar telah melibatkan paling sedikit 25% dari total permukaan tubuh mereka. Antara 8.000 dan 12.000 pasien dengan luka bakar meninggal, dan sekitar satu juta akan mempertahankan cacat substansial atau permanen yang dihasilkan dari luka bakar mereka.

Angka mortalitas penderita luka bakar di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 27,6% (2012) di RSCM dan 26,41% (2012) di RS Dr. Soetomo (Martina & Wardhana, 2013).

Data epidemiologi dari unit luka bakar RSCM pada tahun 2011-2012 melaporkan jumlah pasien luka bakar sebanyak 257 pasien. Dengan rerata usia adalah 28 tahun ( range : 2,5 bulan – 76 tahun), dengan rasio laki- laki : perempuan adalah 2,7 : 1. Luka bakar api adalah etiologi terbanyak (54,9 %), diikuti air panas (29,2%), luka bakar listrik (12,8%), dan luka bakar kimia (3,1%). Rerata luas luka bakar adalah 26% (range 1-98%). Dan rerata lama rawatan adalah 13,2 hari. Angka mortalitas sebanyak 36,6% pada pasien dengan rerata luas luka bakar 44,5%, dengan luas luka bakar > 60 % semuanya mengalami kematian.
B.     Insidensi Luka Bakar
Kelompok terbesar dengan kasus luka bakar adalah anak-anak kelompok usia dibawah 6 tahun bahkan sebagian besar berusia kurang dari 2 tahun. Puncak insiden kedua adalah luka bakar akibat kerja yaitu pada usia 25-35 tahun. Kendatipun jumlah pasien lanjut usia dengan luka bakar cukup kecil, tetapi kelompok ini sering kali memerlukan perawatan pada fasilitas khusus luka bakar. 
Dalam tahun tahun terakhir ini daya tahan hidup dimana penderita dapat kembali pada keadaan sebelum cedera pada penderita lanjut usia mengalami perbaikan yang lebih cepat dibandingkan dengan populasi umum luka bakar lainnya.
Insiden luka bakar terutama terjadi pada pria oleh karena dominasi pekerja pria pada industri berat dan kehidupan pria yang lebih beresiko tinggi.Cedera luka bakar lebih sering melibatkan sosio ekonomi yang kurang-rendah.Insiden puncak luka bakar pada orang dewasa muda terdapat pada umur 20-29 tahun.Diikuti oleh anak umur 9 tahun atau lebih muda, luka bakar jarang terjadi pada umur 80 tahun ke atas.Sekitar 80% luka bakar dapat terjadi di rumah. Pada anak dibawah umur 3 tahun penyebab luka bakar paling umum adalah cedera lepuh (scald burn). Luka ini dapat terjadi bila bayi dan balita yang tak terurus dengan baik, dimasukkan kedalam bak mandi yang berisi air yang sangat panas dan anak tak mampu keluar dari bak mandi tersebut.Selain itu kulit balita lebih tipis daripada kulit anak yang lebih besar dan orang dewasa, karena nya lebih rentan cedera. Pada anak umur 3-14 tahun, penyebab luka bakar paling sering karena nyala api yang membakar baju. Dari umur ini sampai 60 tahun luka bakar paling sering disebabkan oleh kecelakaan industri.


C.    Metode Dalam Penyembuhan Luka Bakar
Penelitian dilakukan di Bangsal Bedah RSUP Dr.Kariadi Semarang mulai 16April 2011 – 6 Mei 2011.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental padapasien yang telah lolos kaji etik penelitian.Subyek penelitian adalah pasien lukabakar yang dirawat di Bangsal Bedah RSUP Dr. Kariadi Semarang.Sampel yangdigunakan adalah luka bakar derajat dua dangkal yang dialami oleh pasien danmemenuhi syarat kriteria penelitian.Sebanyak 10 sampel luka dibagi menjadi 2kelompok perlakuan yaitu kelompok madu (M) dan kelompok kontrol (K).Masing-masingperlakuan terdiri dari 5 luka.
Sebelum pembalutan luka, dilakukan pengukuran luas luka dengan ukuranminimal 25cm2 kemudian diberi perlakuan satu sisi menggunakan madu dan sisi lainmenggunakan tulle. Irigasi luka menggunakan larutan garam fisilogis dilakukan sebelum melakukan pembalutan menggunakan madu dan tulle kemudian ditutup dengan kasa lembab dan kasa gulung. Balutan dibuka setiap dua hari untuk mengamati proses epitelisasi yang terjadi pada luka. Aplikasi madu dan tulle dilanjutkan sampai terjadi epitelisasi penuh.Tepi luka menjadi titik ukur untuk pengukuran luas luka bakar. Pengukuran menggunakan program Autocad 2010. Analisis data percepatan proses epitelisasi dan penurunan luas luka bakar dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Untuk semua tes statistik signifikansi ditetapkan pada p<0,05.
D.    Efek Perlakuan Terhadap Variable Penelitian
Efek penggunaan madu dan tulle sebagai kontrol terhadap proses epitelisasi luka bakar derajat dua dangkal dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara proses epitelisasi dengan madu dan dengan tulle sebagai control.
Tabel 1. Efek perlakuan terhadap proses epitelisasi luka bakar derajat dua dangkal
Kelompok
Rerata
P value
Keterangan
Kontrol
7

0,310

Tidak Signifikan
Madu
5

E.     Diskusi Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan secara klinis proses epitelisasi luka bakar balut madu lebh cepat dibandingkan dengan balut kasa tulle. Namun secara staistik tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada proses epitelisasi luka bakar derajat dua dangkal yang dibalut madu dan kasa tulle.
Gambaran ini sedikit berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh P.C. Molan pada luka bakar derajat tiga yang diberi madu dan perak sufadiazine dimana secara statistik didapatkan perbedaan yang bermakna pada proses penyembuhan luka bakar tersebut. Alasan yang dapat menjelaskan perbedaan ini adalah jenis madu yang digunakan. Kualitas madu bagi penyembuhan luka sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, komposisi nektar, jenis bunga, cuaca dan iklim, cara pengolahan, dan beberapa faktor lain. Sebagian besar peneliti tidak menyebutkan jenis madu yang digunakan.Tetapi bila dilihat dari tempat pelaksanaan penelitian, sebagin besar dilakukan di negara sub-tropis, dimana kelembaban udara jauh lebih rendah dan memiliki jenis tanaman yang berbeda dengan daerah tropis sehingga berdampak pada kandungan madu dan manfaatnya di bidang medis.
Perbedaan penelitian ini dengan penelititan terdahulu adalah pada pengamatan penyembuhan luka. Penelitian ini mengamati proses epitelisasi yang berlangsung selama proses penyembuhan luka bakar derajat dua dangkal serta subyek penelitiannya adalah manusia. Hal ini berbeda dengan penelitian terdahulu yang menentukan waktu penyembuhan luka bakar derajat tiga serta menggunakan tikus sebagai hewan coba.

















BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Penyembuhan luka bakar derajat dua dangkal yang diberi madu secara klinis berlangsung lebih cepat dari yang diberi kasa tulle. Namun secara statistik, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada proses epitelisasi luka bakar yang diberi madu dan kasa tulle.
B.     Saran
Diperlukan standarisasi madu di Indonesia apabila akan digunakan untuk keperluan di bidang medis.









DAFTAR PUSTAKA

Stotts N.A, Whitney J.D.,Wound healing 1993. critical care nursing.
Philadelphia : W.B. Saunders Company; 1993.

Carol,D 1996. Tentang Luka Bakar. Jurnal Kesehatan. Volume 100/Nomor3/Februari/1996. H.641-649.

Nasution,R.2010. Penyembuhan Luka. http://hmkuliah.wordpress.com. Diaskes  15 April 2015 Jam 14:00 WIB.

Fawcett, B.2004. Buku Ajar Histology. Jakarta : EGC; 2004.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar