Makalah
Bahasa Indonesia
EFEK MADU DALAM PROSES EPITELISASI LUKA BAKAR
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia
Dosen
Pengampu: Septianna Nurul Suryani,S.S.,Hum.
Disusun
Oleh :
Nama : Desita
NIM
: 14.15.3949
Kelas :
D/KM/III
Kelompok :
D3
KONSENTRASI MANAJEMEN
RUMAH SAKIT
PROGRAM STUDI KESEHATAN
MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU
KESEHATAN SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puja dan
puji syukur hanya layak tercurahkan kepada Allah SWT, karena atas limpahan
karunia-Nya, shalaw serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah
Muhammad SAW. Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk di
teladani, yang seluruh ucapannya adalah kebenaran , yang selalu getar hatinya
karena kebaikan, Sehingga saya bisa menyelesaikan Makalah Biokomia.
Banyaknya kesulitan dan
hambatan yang saya hadapi dalam pembuatan tugas mandiri ini tetapi dengan
semangat dan kegigihan serta arahan, bimbingan dari berbagai pihak sehingga saya bisa menyelesaikan tugas
mandiri ini dengan baik, oleh karena itu pada kesempatan kali ini, saya
mengucapkan terima kasih kepada.
Saya menyimpulkan bahwa
Makalah Biokimia mandiri ini masih belum sempurna, oleh karena itu saya
menerima kritik dan saran, guna kesempurnaan tugas mandiri ini dan bermanfaat
bagi saya dan pembaca umumnya.
Yogyakarta,
17 Desember 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Luka
bakar adalah luka karena kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, listrik, dan bahan kimia.
Luka yang disebabkan oleh panas api atau cairan yang dapat membakar merupakan
jenis yang lazim kita jumpai dari luka bakar yang parah.
Luka
bakar merupakan jenis trauma dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang
memerlukan suatu penatalaksanaan sebaik-baiknya sejak fase awal hingga fase
lanjut.Luka bakar dapat terjadi pada setiap orang muda maupun orang tua dan
baik laki-laki maupun perempuan.Luka bakar dapat bervariasi dari cedera ringan
yang dapat dengan mudah dikelola di klinik rawat jalan, untuk luka yang luas
dapat mengakibatkan kegagalan sistem organ dan perawatan yang berkepanjangan di
rumah sakit.
Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem
yang berat. Perawatan dan rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan,
biaya mahal, tenaga terlatih dan terampil. Oleh karena itu, penanganan luka
bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis
bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), intensifis,
spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan
psikologiKerusakan akibat luka bakar derajat dua dangkal mengenai epidermis
danbagian atas dari corium / dermis. Penyembuhan terjadi spontan dalam 10-14
haritanpa terbentuk jaringan parut.Penyembuhan luka adalah suatu kualitas
darikehidupan jaringan.Hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan.
Prosespenyembuhan dapat terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa
bahanperawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan.Penyembuhan
luka bakar melalui beberapa fase yakni fase inflamasi, faseproliferasi, dan
fase maturasi. Proses epitelisasi terjadi selama fase proliferasi.2
Lapissel-sel yang mati karena trauma melindungi sel-sel hidup di lapisan yang
lebih dalamdari epitel. Lapis-lapis perbaikan luka terbentuk dengan adanya
integrasi antarakolagen yang disintesis oleh fibroblast dengan substansi dasar.
Selama pemulihanluka,sel-sel pada tepian luka menggepang menjadi lembaran tipis
yang menyebarmenutupi celah dalam epitel. Sedangkan pada tepi luka, pembelahan
sel dimulai agakbelakangan untuk menyediakan sel yang diperlukan untuk
pemulihan epitel sampaitebalnya normal.
Pengelolaan luka yang baik akan menentukan hasil
akhir proses penyembuhan luka. Kasa tulle banyak digunakan untuk pembalutan
luka bakar. Pemberian antibiotik pada kasa tulle dapat mencegah terjadinya
infeksi mikroorganisme yang dapat menghambat proses penyembuhan luka bakar.
Madu adalah cairan kental manis yang dihasilkan oleh lebah. Bahan ini telah
lama digunakan sebagai obat, dan penelititan yang dilakukan pada dekade terakhir
telah menunjukkan manfaat yang besar dari madu.8-10 Selain memiliki efek anti
mikroba, madu juga memiliki efek anti inflamasi dan meningkatkan fibroblastik
serta angioblastik. Analisis mengenai kandungan madu menyebutkan bahwa unsur
terbesar komponen madu adalah glukosa dengan kadar fruktosa paling besar
(76,8%), disamping mineral dan vitamin. Berbagai penelitian terdahulu
menyebutkan bahwa madu efektif sebagai alternatif pengobatan untuk berbagai
macam luka termasuk luka bakar. Namun tidak dijelaskan bagaimana peranan madu
dalam proses penyembuhan luka bakar. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui derajat kesembuhan (re-epitalisasi) luka bakar
derajat dua dangkal dengan menggunakan madu dan kasa tulle sebagai media
pembalut luka.
B. Rumusan Masalah
1. Epidemiolgi
luka bakar
2. Insidensi
luka bakar
3. Bagaimana
metode yang digunakan dalam penyembuhan luka ?
4. Bagaimana
efek perlakuan terhadap variable penelitian ?
5. Diskusi
penelitian
C.
Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui derajat kesembuhan
(re-epitalisasi) luka bakar derajat dua dangkal dengan menggunakan madu dan
kasa tulle sebagai media pembalut luka.
BAB
II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
A.
Kesehatan
Secara Umum
Kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa,
dan sosial
yang memungkinkan setiap orang hidup produktif
secara sosial, dan ekonomis.
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan, dan pencegahan gangguan
kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk
kehamilan, dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu
sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif,
untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang
memengaruhi kesehatan pribadinya, dan orang lain. Definisi
yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green, dan para koleganya
yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi
pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasisukarela
terhadap perilaku yang kondusif
bagi kesehatan. Data
terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak
mampu mendapat jaminan
kesehatan dari lembaga atau perusahaan
di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek.Golongan
masyarakat yang dianggap 'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah
mereka dari golongan masyarakat
kecil, dan pedagang.Dalam
pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik,
berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa
kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu
sendiri.
B.
Konsep
Sehat – Sakit
Dibawah
ini terdapat beberapa konsep mengenai sehat-sakit, yaitu:
1. Konsep
Sehat Sakit Menurut WHO
Menurut
WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna
baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau
kelemahan (WHO, 1947).
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):
a. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
b. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
c. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
2. Sehat
Menurut DepKes RI
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan
bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini
maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur
–unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian
integral kesehatan. Dalam pengertian
yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana
individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektua, spiritual dan
penyakit) dan eksternal (lingkungan
fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.
Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.
Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelaskan dari segi impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia.
3. Ciri-Ciri
Sehat
Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit.Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.
a. Pikiran sehat
b. Emosional sehat
c. Spiritual sehat
d. Kesehatan sosial
e. Kesehatan dari aspek ekonomi
4. Paradigma
sehat
Paradigma sehat adalah cara pandang atau pola pikir pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis dan lintas sektoral, dalam suatu wilayah yang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan perlindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya penyembuhan penduduk yang sakit.
Pada intinya paradigma sehat memberikan perhatian utama terhadap kebijakan yang bersifat pencegahan dan promosi kesehatan, memberikan dukungan dan alokasi sumber daya untuk menjaga agar yang sehat tetap sehat namun tetap mengupayakan yang sakit segera sehat.Pada prinsipnya kebijakan tersebut menekankan pada masyarakat untuk mengutamakan kegiatan kesehatan daripada mengobati penyakit.Telah dikembangkan pengertian tentang penyakit yang mempunyai konotasi biomedik dan sosio kultural.
5. Aspek-aspek
pendukung kesehatan
Faktor-faktor yg mempengaruhi keselarasan tersebut berlangsung seterusnya adalah:
a. Nutrisi yang lengkap dan seimbang
b. Istirahat yang cukup
c. Olah Raga yang teratur
d. Kondisi mental, sosial dan rohani yang seimbang
e. Lingkungan yang bersih
C. Teori Luka Bakar
Luka bakar adalah luka karena kerusakan atau
kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air
panas, listrik, dan bahan kimia. Luka yang disebabkan oleh panas api atau
cairan yang dapat membakar merupakan jenis yang lazim kita jumpai dari luka
bakar yang parah.
Luka
bakar merupakan jenis trauma dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang
memerlukan suatu penatalaksanaan sebaik-baiknya sejak fase awal hingga fase
lanjut.Luka bakar dapat terjadi pada setiap orang muda maupun orang tua dan
baik laki-laki maupun perempuan.Luka bakar dapat bervariasi dari cedera ringan
yang dapat dengan mudah dikelola di klinik rawat jalan, untuk luka yang luas
dapat mengakibatkan kegagalan sistem organ dan perawatan yang berkepanjangan di
rumah sakit.
Di
Indonesia, luka bakar masih merupakan problem yang berat. Perawatan dan
rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan, biaya mahal, tenaga
terlatih dan terampil. Oleh karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat
dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis bedah (bedah anak,
bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), intensifis, spesialis penyakit
dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologi.
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Epidemiologi Luka Bakar
Menurut the National Institutes of General
Medical Sciences, sekitar 1,1 juta luka-luka bakar yang membutuhkan perawatan
medis setiap tahun di Amerika Serikat. Di antara mereka terluka, sekitar 50.000
memerlukan rawat inap dan sekitar 4.500 meninggal setiap tahun dari luka
bakar.Ketahanan hidup setelah cedera luka bakar telah meningkat pesat selama
abad kedua puluh.Perbaikan resusitasi, pengenalan agen antimikroba topikal dan,
yang lebih penting, praktek eksisi dini luka bakar memberikan kontribusi terhadap
hasil yang lebih baik.Namun, cedera tetap mengancam jiwa.
Di
India, sekitar 2,4 juta luka bakar dilaporkan per tahun. Sekitar 650.000 dari
cedera ditangani oleh pusat-pusat perawatan luka bakar, 75.000 dirawat di rumah
sakit.Dari mereka yang dirawat di rumah sakit, 20.000 yang mengalami luka bakar
besar telah melibatkan paling sedikit 25% dari total permukaan tubuh mereka.
Antara 8.000 dan 12.000 pasien dengan luka bakar meninggal, dan sekitar satu
juta akan mempertahankan cacat substansial atau permanen yang dihasilkan dari
luka bakar mereka.
Angka
mortalitas penderita luka bakar di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 27,6%
(2012) di RSCM dan 26,41% (2012) di RS Dr. Soetomo (Martina & Wardhana,
2013).
Data
epidemiologi dari unit luka bakar RSCM pada tahun 2011-2012 melaporkan jumlah
pasien luka bakar sebanyak 257 pasien. Dengan rerata usia adalah 28 tahun (
range : 2,5 bulan – 76 tahun), dengan rasio laki- laki : perempuan adalah 2,7 :
1. Luka bakar api adalah etiologi terbanyak (54,9 %), diikuti air panas
(29,2%), luka bakar listrik (12,8%), dan luka bakar kimia (3,1%). Rerata luas
luka bakar adalah 26% (range 1-98%). Dan rerata lama rawatan adalah 13,2 hari.
Angka mortalitas sebanyak 36,6% pada pasien dengan rerata luas luka bakar
44,5%, dengan luas luka bakar > 60 % semuanya mengalami kematian.
B. Insidensi Luka Bakar
Kelompok
terbesar dengan kasus luka bakar adalah anak-anak kelompok usia dibawah 6 tahun
bahkan sebagian besar berusia kurang dari 2 tahun. Puncak insiden kedua adalah
luka bakar akibat kerja yaitu pada usia 25-35 tahun. Kendatipun jumlah pasien
lanjut usia dengan luka bakar cukup kecil, tetapi kelompok ini sering kali
memerlukan perawatan pada fasilitas khusus luka bakar.
Dalam
tahun tahun terakhir ini daya tahan hidup dimana penderita dapat kembali pada
keadaan sebelum cedera pada penderita lanjut usia mengalami perbaikan yang
lebih cepat dibandingkan dengan populasi umum luka bakar lainnya.
Insiden
luka bakar terutama terjadi pada pria oleh karena dominasi pekerja pria pada
industri berat dan kehidupan pria yang lebih beresiko tinggi.Cedera luka bakar
lebih sering melibatkan sosio ekonomi yang kurang-rendah.Insiden puncak luka
bakar pada orang dewasa muda terdapat pada umur 20-29 tahun.Diikuti oleh anak
umur 9 tahun atau lebih muda, luka bakar jarang terjadi pada umur 80 tahun ke
atas.Sekitar 80% luka bakar dapat terjadi di rumah. Pada anak dibawah umur 3
tahun penyebab luka bakar paling umum adalah cedera lepuh (scald burn). Luka
ini dapat terjadi bila bayi dan balita yang tak terurus dengan baik, dimasukkan
kedalam bak mandi yang berisi air yang sangat panas dan anak tak mampu keluar
dari bak mandi tersebut.Selain itu kulit balita lebih tipis daripada kulit anak
yang lebih besar dan orang dewasa, karena nya lebih rentan cedera. Pada anak
umur 3-14 tahun, penyebab luka bakar paling sering karena nyala api yang
membakar baju. Dari umur ini sampai 60 tahun luka bakar paling sering
disebabkan oleh kecelakaan industri.
C.
Metode Dalam Penyembuhan Luka Bakar
Penelitian
dilakukan di Bangsal Bedah RSUP Dr.Kariadi Semarang mulai 16April 2011 – 6 Mei
2011.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental padapasien yang telah
lolos kaji etik penelitian.Subyek penelitian adalah pasien lukabakar yang
dirawat di Bangsal Bedah RSUP Dr. Kariadi Semarang.Sampel yangdigunakan adalah
luka bakar derajat dua dangkal yang dialami oleh pasien danmemenuhi syarat
kriteria penelitian.Sebanyak 10 sampel luka dibagi menjadi 2kelompok perlakuan
yaitu kelompok madu (M) dan kelompok kontrol (K).Masing-masingperlakuan terdiri
dari 5 luka.
Sebelum
pembalutan luka, dilakukan pengukuran luas luka dengan ukuranminimal 25cm2
kemudian diberi perlakuan satu sisi menggunakan madu dan sisi lainmenggunakan
tulle. Irigasi luka menggunakan larutan garam fisilogis dilakukan sebelum
melakukan pembalutan menggunakan madu dan tulle kemudian ditutup dengan kasa
lembab dan kasa gulung. Balutan dibuka setiap dua hari untuk mengamati proses
epitelisasi yang terjadi pada luka. Aplikasi madu dan tulle dilanjutkan sampai
terjadi epitelisasi penuh.Tepi luka menjadi titik ukur untuk pengukuran luas
luka bakar. Pengukuran menggunakan program Autocad 2010. Analisis data percepatan proses epitelisasi dan
penurunan luas luka bakar dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Untuk semua tes statistik signifikansi ditetapkan
pada p<0,05.
D. Efek Perlakuan Terhadap
Variable Penelitian
Efek penggunaan madu dan tulle sebagai kontrol
terhadap proses epitelisasi luka bakar derajat dua dangkal dianalisis dengan
uji Mann-Whitney. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak didapatkan
perbedaan yang signifikan antara proses epitelisasi dengan madu dan dengan
tulle sebagai control.
Tabel 1. Efek perlakuan
terhadap proses epitelisasi luka bakar derajat dua dangkal
Kelompok
|
Rerata
|
P
value
|
Keterangan
|
Kontrol
|
7
|
0,310
|
Tidak
Signifikan
|
Madu
|
5
|
E. Diskusi Penelitian
Hasil
penelitian menunjukkan secara klinis proses epitelisasi luka bakar balut madu
lebh cepat dibandingkan dengan balut kasa tulle. Namun secara staistik tidak
didapatkan perbedaan yang bermakna pada proses epitelisasi luka bakar derajat
dua dangkal yang dibalut madu dan kasa tulle.

Gambaran ini sedikit berbeda dengan penelitian yang
telah dilakukan sebelumnya oleh P.C. Molan pada luka bakar derajat tiga yang
diberi madu dan perak sufadiazine dimana secara statistik didapatkan perbedaan
yang bermakna pada proses penyembuhan luka bakar tersebut. Alasan yang dapat
menjelaskan perbedaan ini adalah jenis madu yang digunakan. Kualitas madu bagi
penyembuhan luka sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, komposisi
nektar, jenis bunga, cuaca dan iklim, cara pengolahan, dan beberapa faktor
lain. Sebagian besar peneliti tidak menyebutkan jenis madu yang
digunakan.Tetapi bila dilihat dari tempat pelaksanaan penelitian, sebagin besar
dilakukan di negara sub-tropis, dimana kelembaban udara jauh lebih rendah dan
memiliki jenis tanaman yang berbeda dengan daerah tropis sehingga berdampak
pada kandungan madu dan manfaatnya di bidang medis.
Perbedaan penelitian ini dengan penelititan
terdahulu adalah pada pengamatan penyembuhan luka. Penelitian ini mengamati
proses epitelisasi yang berlangsung selama proses penyembuhan luka bakar
derajat dua dangkal serta subyek penelitiannya adalah manusia. Hal ini berbeda
dengan penelitian terdahulu yang menentukan waktu penyembuhan luka bakar
derajat tiga serta menggunakan tikus sebagai hewan coba.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyembuhan
luka bakar derajat dua dangkal yang diberi madu secara klinis berlangsung lebih
cepat dari yang diberi kasa tulle. Namun secara statistik, tidak didapatkan
perbedaan yang bermakna pada proses epitelisasi luka bakar yang diberi madu dan
kasa tulle.
B.
Saran
Diperlukan
standarisasi madu di Indonesia apabila akan digunakan untuk keperluan di bidang
medis.
DAFTAR PUSTAKA
Stotts
N.A, Whitney J.D.,Wound healing 1993. critical
care nursing.
Philadelphia
: W.B. Saunders Company; 1993.
Carol,D 1996.
Tentang Luka Bakar. Jurnal Kesehatan.
Volume 100/Nomor3/Februari/1996. H.641-649.
Nasution,R.2010.
Penyembuhan Luka. http://hmkuliah.wordpress.com. Diaskes 15
April 2015 Jam 14:00 WIB.